Beranda Rumah Konsumen Milenial Minati Smarthome Harga Rp500 Juta di Harvest City

Konsumen Milenial Minati Smarthome Harga Rp500 Juta di Harvest City

0
BERBAGI
Momentum relaksasi free PPN 10 persen untuk properti harga di bawah Rp2 miliar, mendorong pengembang kota mandiri, Harvest City, Transyogi, Bogor, mengencarkan penjualan hunian rumah siap huni yang memang sedang diminati konsumen karena ingin dapat potongan PPN 10 persen.(Dok. Harvest City)

CILEUNGSI, Bogor, tpcom– Momentum relaksasi free PPN 10 persen untuk properti harga di bawah Rp2 miliar, mendorong pengembang kota mandiri, Harvest City, Transyogi, Bogor, mengencarkan penjualan hunian rumah siap huni yang memang sedang diminati konsumen karena ingin dapat potongan PPN 10 persen.

Chief Executive Officer (CEO) Harvest City Hendry Nurhalim mengatakan, ada program diskon harga dari Rp40 juta hingga lebih dari Rp100 juta kepada konsumen yang membeli rumah siap huni (ready stock) di Harvest City sampai Agustus depan.

“Kami punya rumah siap huni itu beragam dari harga Rp400 jutaan hingga Rp1,3 miliar. Pembeli benar-benar tinggal masuk rumah kalau sudah bayar DP dan akad kredit. Dengan adanya bebas pajak PPN 10% dari pemerintah maka kami bisa kurangi harga sangat besar karena ditambah dengan subsidi biaya KPR 4% dan subsidi uang muka 5%,” ujar Hendry Nurhalim, dalam siaran persnya yang diterima Transaksiproperty.com pada Jumat, 11/6).

BACA JUGA: Poros Cibubur Masuki Sunrise Properti II, Harvest Berharap Kecipratan Buyer

Dia menambahkan insentif untuk rumah siap huni itu memang banyak diberikan oleh manajemen Harvest City, termasuk bebas biaya BPHTB, gratis biaya pengurusan SHM sehingga total pengurangan harganya bisa di atas Rp40 juta hingga lebih Rp100 juta per unit rumah.

Oleh karena itu, kata Hendry, perumahan skala kota seluas 1.350 hektare ini optimistis penjualan tahun ini akan terdongkrak karena mendapatkan momentum dari keluarnya kebijakan relaksasi free PPN 10 persen dan didukung dengan rendahnya suku bunga KPR yang saat ini sekitar 5 persen.

Salah satu interior kamar di rumah ready stock yang ada di Harvest City. (Foto Ist)

“Kami berharap target penjualan Harvest City sekitar Rp300 miliar tahun ini,” kata Hendry Nurhalim. 

Rumah Smarthome

Selain memasarkan rumah siap huni, Rymond Santoso, GM Marketing & Sales Harvest City menyatakan, pihaknya  juga sedang menawarkan produk terbaru yang merupakan produk andalan, yaitu rumah smart home di cluster Sakura Indica.

Menurut Rymond Santoso, produk baru ini dirilis untuk memenuhi kebutuhan pasar di segmen harga Rp500 jutaan hingga Rp800 jutaan yang minatnya ternyata cukup besar.  Cluster smart home Sakura Indica dikembangkan di atas lahan seluas 5 hektare yang rencana akan dibangun sekitar 400 unit.

“Untuk hunian indent ini yang dibanderol dengan harga mulai Rp500 jutaan itu, konsumen bisa dapat diskon lebih dari Rp50 jutaan bahkan bisa sampai Rp100 juta diskon harganya untuk beli rumah harganya Rp800 jutaan. Respon pasar cukup bagus. Baru kami pasarkan, Sakura Indica sudah soldout 12 unit dari 20 unit yang kami luncurkan untuk tahap pertama,” kata Rymond Santoso.

Untuk hunian indent, manajemen Harvest City memberikan diskon uang muka sebesar 4% dan subsidi biaya KPR, serta hadiah voucher belanja IKEA senilai Rp5 juta bagi pembeli.

Dia mengatakan, penjualan rumah di Harvest City mengalami kenaikan sejak April lalu atau sebulan setelah kebijakan bebas PPN diberlakukan oleh pemerintah.

“Kami menawarkan produk hunian siap huni dan indent kepada konsumen agar mereka memiiliki banyak pilihan sesuai dengan kebutuhannya. Momentum relaksasi free PPN 10persen itu sangat menguntungkan konsumen. Bahkan program promosi kami pada April lalu, menyediakan bonus subsidi bunga KPR, gratis pemasangan Internet & TV Cable, hingga dapat hadiah Kulkas atau AC,” jelasnya.”

Mengenai profil pembeli hunian di kawasan mandiri ini, terdapat 94 persen diantaranya menggunakan pembiayaan perbankan atau KPR. Dari sisi pengelompokkan umur terdapat 69 persen dari porsi pembeli dari kalangan milenial.

“Jadi proyek kami banyak dari pembeli end user (untuk ditempati). Hanya sedikit yang dari kalangn investor. Kalau end user itu beli dengan KPR, kalau investor itu belinya pakai cash keras. Lihat saja, rumah yang sudah terjual itu banyak dihuni oleh konsumen kami,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY