Beranda Vila & Resor Resor di Maldives Bermandikan Cahaya Dari Listrik Solar Cell

Resor di Maldives Bermandikan Cahaya Dari Listrik Solar Cell

0
BERBAGI
Salah satu vila yang atapnya terpasang panel surya yang menghasilkan energi listrik ramah lingkungan di resot Kudadoo, Maldives. (Dok. Designboom)

Transaksiproperty.com– Berwisata ke Maldives, sudah seperti igauan bahkan mantra bagi banyak orang di dunia, termasuk di Indonesia.
Ada berjuta sensasi saat menyebut berwisata ke Maldives alias Maladewa tersebut.

Wisata pulau dan resor Maldives sudah sedemikian tersohor di seantero dunia. Data statisitk 2015 menyebutkan ada 1,2 juta wisatawan dunia yang datang per tahun ke negara kecil berpenduduk hanya sebanyak 436.330 jiwa tersebut.

Setiap turis membelanjakan sekitar US$10.000 per malam dengan menginap di vila-vila resor pantai yang eksotis di negara yang terletak di sebelah selatan-barat daya India, atau sekitar 700 km sebelah barat daya Sri Lanka tersebut. Maldives atau Maladewa memang memiliki pantai berpasir putih dengan warna air biru kehijauan yang disebabkan oleh pelestarian ekosistem lautnya yang diyakini terjaga secara alami. Jadi jangan heran banyak masyarakat global, termasuk orang Indonesia bermimpi kedua ke sana, setelah mimpi pertama pergi berhaji.

BACA JUGA: Shenyang, Kota Cantik di China Yang Membuat Ciputra Jatuh Cinta

Untuk itu, tak perlu pula heran jika industri pariwsata Maladewa memberi kontribusi hingga sepertiga dari total pendapatan negara kepulauan tersebut. Menurut data 2015, pendapatan per kapita rakyat Maladewa sudah mencapai US$ 11.000 per tahun. Bandingkan dengan pendapatan per kapita rakyat Indonesia yang baru US$ 4.500 per tahun.

Dok. Designboom

Membangun Pariwisata Berkelanjutan

Meskipun Maladewa menampilkan ratusan bahkan ribuan hamparan pantai yang indah, tetapi negara itu juga memiliki kekhawatiran atas kondisi permukaan tanah rata-rata terendah dibandingkan dengan negara mana pun. Kondisi ini membuat lanskap mereka sangat sensitif terhadap perubahan permukaan laut yang disebabkan oleh perubahan kadar CO2 atau karbon dioksida.

Menyadari hal yang demikian, pelaku pariwisata Maladewa yang kebanyakan investor dari luar negeri, membangun komitmen sekaligus harapan agar dapat membantu sebanyak mungkin dalam memperbaiki dan merawat sebaik mungkin kondisi lingkungan di negara kaya objek wisata bahari tersebut.

Pelaku industri pariwisata resor mencoba mengendalikan takaran karbon dan sekaligus mengembangkan jalan menuju masa depan pariwisata berkelanjutan. Tersebutlah firma arsitek YYA (arsitektur yuji yamazaki) yang telah merancang resor pulau pribadi di Kudadoo, Maldives dengan konsep pasokan listrik dari energi tenaga surya. Sang arsitek menggunakan atap sebagai objeknya dalam membangun tanggapan energi surya. Merancang atap bertenaga surya sebagai konsep yang menonjol yang secara alami memberi pasokan energi bagi kebutuhan hotel atau resor.

Photo-voltaics atau panel surya telah menjadi bagian penting dari arsitektur di Maldives untuk jangka waktu yang lama dari sekarang. Seluruh atap berbentuk oval yang ditempeli solar cell sebagai tangkapan energi listrik dari penerimaan utama, restoran, dan kolam renang resor Kudadoo langsung memberi tahu pengunjung tentang langkah-langkah ramah lingkungan yang mereka kembangkan untuk melindungi pulau itu sendiri. Ini akan bermanfaat bagi resor Kudadoo, bahkan bermanfaat pula Maladewa sebagai upaya kecil untuk membangun lingkungan yang sehat bagi dunia.

Konsep yang dibangun firma arsitek itu adalah dengan jalan mengoptimalkan tangkapan energi dari sinar matahari, lalu menghemat konsumsi energi tu dengan cara tetap membiarkan sinar matahari melewati celah dan secara alami mencerahkan atau menerangkan ruang interior propertinya. Hasilnya adalah produksi energi listrik mencapai 320 kWp yang kapasitasnya cukup untuk konsumsi seluruh pulau Kudadoo tanpa perlu membakar minyak atau menghabiskan bahan bakar diesel.

Dok. Kandima.com

Jauh dari bagian utama dari properti resor yang mendapatksan pasokan listrik dari solar cell itu dan di seberang pasir, mereka mendesain vila satu atau dua kamar tidur resor yang terinspirasi dari pulau itu sendiri sebagai tatanan pantai yang indah, hamparan pesisir, perkebunan kelapa dan hutan. Mereka menggunakan bahan-bahan alami untuk menciptakan kamar-kamar yang terang, luas, dan mewah. Sementara itu, jendela-jendela tinggi yang dapat dioperasikan menawarkan ventilasi udara alami juga. Atap dan payung yang menjorok memastikan bahwa balkon atau dek pribadi – dengan kolam infinity individu yang menakjubkan – menawarkan setidaknya lima jam teduh di siang hari.

Itulah wisata Maldives hari ini yang terus jadi buah bibir bagi penikmat perjalanan wisata global yang tentu tidak murah di kantong kita, karena perlu mengeluarkan uang dari kantong sekitar US$10.000 per malam.

Sumber: designboom.com

LEAVE A REPLY