Beranda Global Forest City, Dilema Proyek Kota Hijau US$100 Miliar Di Malaysia

Forest City, Dilema Proyek Kota Hijau US$100 Miliar Di Malaysia

0
BERBAGI
Calon pembeli melihat model proyek Forest City di kantor pemasarannya di Iskandar, Johor Bahru. (Dok. Bloomberg/ 21 Februari 2017)

JOHOR BAHRU, tpcomMalaysia menghadapi dilema antara madu dan racun pada Forest City, sebuah proyek properti kawasan yang ambisius di Johor Bahru.

Malaysia memberikan izin kepada Country Garden Holdings Co, pengembang asal China untuk berbisnis properti di Kawasan Ekonomi Khusus Iskandar, di Johor Bahru dengan menggarap proyek Forest City senilai US$100 miliar.

Proyek ini terdiri dari empat pulau buatan yang akan menampung penghuni hingga 700.000 orang dengan luas wilayah empat kali lipat dari New York Central Park. Dalam kawasan mandiri itu akan dibangun puluhan menara perkantoran, taman, hotel, pusat perbelanjaan dan sekolah internasional yang dirancang dengan konsep taman hijau.

Hebatnya proyek ini sejak diluncurkan mulai 2016 lalu sudah terjual sebanyak 16.000 unit apartemen, dimana pembangunan konstruksinya dimulai pada bulan Februari.

Besarnya kapitalisasi proyek properti kota ini menjadikan ia sebagai proyek investasi terbesar dari sekitar 60 proyek yang ada di wilayah kawasan Iskandar, Johor Bahru tersebut.

170524_map johor ForestCity

Yu Runze, Country Garden Pacificview’s chief strategy officer, sebagaimana dilansir oleh Straitstimes.com, mengatakan proyek Forest City telah mampu menarik 100.000 berkunjung ke lokasi proyek itu pada 2016 lalu.

Baca:

Yu, yang juga bekas analis Bank Dunia itu, menambahkan proyek ini meraih penjualan 16.000 unit pada tahun lalu di tengah kondisi pasar properti yang justru tengah lesu. Angka penjualan itu sendiri hampir mencapai dua kali lipat capaian penjualan rumah baru di Singapura yang hanya berjarak sekitar satu hingga dua jam perjalanan ke pusat kota Singapura.

Merontokan Harga Hunian di Johor Bahru

Keberadaan Forest City yang sudah diluncurkan sejak 2014 itu, dituding sebagai penyebab penurunan harga jual hunian di Johor Bahru. CH Williams Talhar & Wong, konsultan properti, memperkirakan penjualan hunian di negara bagian Malaysia itu jatuh hingga hampir sepertiga dari nilai penjualan. Tak pelak, kemudian hal itu memaksa sejumlah pengembang menawarkan potongan harga sedikitnya 20% kepada calon pembeli agar penjualan kembali pulih. Harga jual rata-rata untuk hunian apartemen kelas menengah di Johor Bahru turun sekitar 10% pada tahun lalu, ungkap CH Williams Talhar & Wong lagi.

Kalau harga properti dari Vancouver ke Sydney melonjak karena pembelian masih oleh buyer dari China, maka di Johor Bahru justru sebaliknya, membanjirnya pengembang China yang masuk ke sana telah berdampak menjatuhkan harga properti.

Desain miniatur proyek Forest City.

Satu dekade yang lalu, Malaysia memutuskan untuk memanfaatkan kesuksesan Singapura dengan membangun zona Iskandar, Johor Bahru yang berada diperbatasan yang menghubungkan kedua negara. Ini adalah model di Shenzhen, tetangga Hong Kong yang tumbuh dari sebuah desa nelayan ke kota berpenduduk 10 juta orang dalam tiga dekade belakangan ini. Perusahaan investasi Malaysia, Khazanah Nasional Bhd mengumumkan proyek Iskandar itu sebagai masa depan Malaysia dalam program 20 tahun ke depan pada 2006. Waktu itu disebutkan kebutuhan investasi untuk membangun kawasan ekonomi khusus Iskandar mencapai 383 miliar ringgit (US$87 miliar).

Dan memang Iskandar mampu menarik ekonomi Singapura, dimana biaya tinggi dan harga properti yang mahal di Singapura, mendorong beberapa perusahaan pindah ke Iskandar. Sedangkan pusat perbelanjaan dan taman hiburan Iskandar, menjadi tempat kunjungan favorit bagi warga Singapura. Masuknya pebisnis properti China ke kawasan Iskandar menimbulkan ledakan pasar properti, dimana banyak pembeli asal China yang membeli unit properti di kawasan tersebut. Pada akhirnya, pengembang China, termasuk Country Garden Holdings Co., Johor Bahru dengan kawasan Iskandar-nya akan menjadi kota Shenzhen berikutnya.

Perusahaan-perusahaan China telah datang ke Malaysia karena dampak dari pertumbuhan di banyak kota di China yang dulu tinggi- kini justru melambat, memaksa beberapa developer besar melihat ke luar negeri untuk terus membangun kompleks perumahan raksasa. Dalam hal ini, mereka menemukan tempat utama di zona ekonomi khusus Iskandar ini yang luasnya tiga kali ukuran Singapura yang berada di seberangnya.

Sumber: Bloomberg dan Straitstimes.com

LEAVE A REPLY