Beranda Estate Managament Property Management: Melek ICT & Profesional Kelola Potensi Konflik

Property Management: Melek ICT & Profesional Kelola Potensi Konflik

0
BERBAGI
Lansekap Superblok Podomoro City (Dok. Inner City Management)

TPCOM, JAKARTA- Pertumbuhan apartemen dan kondominium yang pesat di kota- kota besar di Indonesia sejak tahun 2000 menumbuhkan peluang bisnis di bidang property management, yang menyediakan banyak lapangan kerja dan menumbuhkan kegiatan ekonomi baru.

Hanya saja sejalan dengan hal itu, muncul tantangan bagi property management disebabkan oleh masih minimnya pemahaman penghuni apartemen dalam property rules atau house rules, sehingga menimbulkan banyak pelanggaran aturan dalam tata cara tinggal di apartemen.

Hal itu diutarakan oleh Bambang Setiobudi, Direktur Inner City Management (ICM), salah property management terbesar di Indonesia, dalam acara puncak HUT ICM Ke-11 di Jakarta pada Sabtu (4/03).

Pemecahan Rekor MURI Kategori Senam Pilates Terbanyak, Sabtu, 4 Maret 2017, di Podomoro City, Jakarta.(Dok. ICM)

ICM adalah property management yang berafiliasi pada PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) dengan jumlah karyawan mencapai 9.000 orang. Perusahaan pengelola gedung ini sudah mengelola sekitar 40 properti hunian dan komersial yang tidak hanya gedung yang dibangun oleh APLN.

“Jutaan tenaga kerja ikut terserap dalam bisnis yang relatif baru di Indonesia ini. Namun ke depan, tantangannya semakin berat, dan tidak banyak orang yang mampu menghadapi. Misalnya, mengelola apartemen berunit ribuan. Problem utama yang sering dihadapi oleh pengelola gedung adalah banyak penghuni yang kurang memahami aturan tinggal di bangunan vertikal yang memiliki kepemilikan bersama- tanah bersama, benda bersama, dan bagian bersama,” ujarnya.

Perayaan HUT ke-11 Inner City Management di Jakarta, Sabtu (4/03). Dok. Ist

Dalam hal ini, Setiobudi mengatakan pemahaman untuk merawat dan memperbaiki semua fasiltas bersama dan fisik gedung karena jika rusak biaya yang dikeluarkan akan mahal. “Dan ini harus dapat dipenuhi dari iuran pengeloalaan lingkungan (IPL) dan dari sinking fund atau dana cadangan.”

Selama ini, ungkapnya, mesti semua unit apartemen sudah memiliki aturan main sendiri yang sering disebut house rules tapi sering diabaikan oleh penghuni yang bisa jadi dilatarbelakangi oleh karena kurang memahami peraturannya.
Hal serupa itulah, tuturnya, harus diselesaikan secara profesional oleh property management dengan sasaran pengelolaan gedung berjalan dengan baik dan memberikan kenyaman bagi penghuni yang sangat beragam.
“Situasi seperti ini menjadi tantangan yang harus dicarikan pendekatan yang tepat. Komunikasi menjadi kata kunci keberhasilan. Property manager harus memiliki kemampuan lebih dalam mengelola komunikasi secara efisien dan efektif,” kata Setiobudi lagi.

Koordinator Komunitas ICM Evie S menambahkan sinergi antara pengurus Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (PPPSRS), badan pengelola, dan pemilik/penghuni menjadi kunci dari keberhasilan pengelolaan estat suatu lingkungan apartemen.
Hal itu, lanjutnya, dirasakan di site-site properti yang dikelola oleh ICM, dengan salah satu bentuk aksi nyatanya membentuk berbagai komunitas dengan latar belakang kesamaan hobi.
Dia memberi contoh dibentuknya Komunitas Senam Pilates, yang pada HUT ICM kali ini seluruh Komunitas Senam Pilates di bawah manajemen ICM (40 site) dengan jumlah anggota lebih dari 1.721 orang melakukan aksi kolosal.

“Komunitas Senam Pilates ini memecahkan Rekor MURI kategori Senam Pilates Terbanyak. Ini adalah bukti kebersamaan dan kekompakan dari seluruh stakeholder,” ujar Evie.
Menurut dia, tujuan utama dari pembentukan komunitas adalah untuk menciptakan hubungan yang harmonis di lingkungan apartemen. Oleh karena itu, dalam setiap kegiatan positif, badan pengelola ingin merangkul dan melibatkan semua penghuni.

Profesional Property Management Berbasis ICT
Pengelola gedung dituntut untuk lebih intensif menggunakan layanan operasional berbasis ICT atau teknologi informatika dan komunikasi.
Hal ini, menurut Mualim Wijoyo, Chief Operating Officer ICM, sudah diterapkan dalam kegiatan bisnis Inner City Management yang saat ini mengelola sebanyak 40 unit gedung hunian dan komersial.

“Strategi utama ICM sebagai service company di bidang integrated property service adalah berbasis ICT dan win-win collaboration dengan para rekanan. Ini kami aplikasikan dalam program-program yang berbasis aplikasi mobile, yang tujuan utamanya untuk memudahkan pekerjaan di lapangan,” ungkap Mualim lagi.
Lebih jauh, menurutnya, saat ini ICM sudah mengaplikasikan program E-Procurement, E-Payment, E-HRIS, E-STR/Checklist, E-Fit Out, dan lain sebagainya.

Rep: Pangeran

LEAVE A REPLY