Beranda Inovasi Forest City, Proyek Properti Revolusioner Penyelamat Nanjing

Forest City, Proyek Properti Revolusioner Penyelamat Nanjing

0
BERBAGI
Inset Stefano Boeri debngan salah satu desain bangunan yang akan dibuatnya dalam proyek Kota Hutan di Nanjing. (Dok. The Guardian, diolah)

TPCOM, BEIJING- Nanjing, Kota di China bagian timur, segera menciptakan revolusi perkotaan yang bakal menjadi mercusuar di dunia.

Salah satu kota utama di RRC itu baru saja meluncurkan proyek Kota Hutan (forest cities) yang mencangkup 100 hingga 200 bangunan jangkung dengan ukuran berbeda yang konstruksinya dibalut dengan pepohonan dan tanaman di fasad

Proyek hutan vertikal itu serupa dengan model arsitektur mencangkok kulit, sebuah model yang ditargetkan bisa membawa kehidupan baru pada sebuah sudut kecil perkotaan di Nanjing yang akan kontras dari China yang sudah parah tercemar polutan udara.

Render proyek Forest City di Nanjing. (Dok. Guardian)

Proyek hebat nan ramah lingkungan ini diaktori oleh Stefano Boeri, arsitek Italia yang terkenal dengan gedung pencakar langitnya yang tertutup tanaman. Stefano sudah populer dengan karyanya, kompleks pencakar langit Bosco Verticale (Vertical Forest) di Milan. Inspirasi proyek di Milan itulah yang akan dikembangkannya menjadi lebih spektakuler di Nanjing.

Kenapa Stefano memilih China? Karena China bukan wilayah baru bagi dia. Pria 60 tahun itu, pertama kali datang ke China pada tahun 1979. Lima tahun yang lalu dia membuka kantor di Shanghai, di mana dia memimpin sebuah program penelitian di Universitas Tongji di kota tersebut.

Untuk itu, dia membawa karya besarnya tentang arsitektur hutan vertikal yang sudah terbukti di Milan. Tetapi, Stefano sekarang bahkan memiliki rencana lebih berani untuk China: untuk menciptakan seluruh “kota hutan” di negara yang telah menjadi identik dengan degradasi lingkungan dan kabut asap.

Arsitek tersebut mengatakan kondisi pencemaran kota di China dan sulit memperbaiki kerusakan itu, menjadikan para pejabat China akhirnya mengerti bahwa mereka perlu merangkul model perencanaan kota baru yang lebih berkelanjutan yang tidak melibatkan megalopolis besar. Tetapi cukup mengembangkan model permukiman 100.000 orang atau lebih sedikit yang seluruhnya dibangun dari arsitektur hijau.

Render Forest City Nanjing.

Proyek Radikal Untuk Menyelamatkan China

Harian Guardian lebih dramatis menyebut proyek Kota Hutan yang dibawa oleh Stefano itu sebagai perencanaan perkotaan radikal untuk menyelamatkan China dari bencana pencemaran udara.

Kenapa konsep Kota Hutan yang dirancang Stefano disebut model rencanangan radikal yang bisa menyelamatkan China? Dalam perhitungan pembangunan gedung dengan konsep Kota Hutan itu akan mampu menyedot 25 ton karbon dioksida dari udara Nanjing setiap tahun dan menghasilkan sekitar 60 kg oksigen setiap hari.

Sebuah studi tentang kondisi lingkungan di China mengungkapkan bahwa polusi udara mampu menewaskan 4.000 orang di China setiap harinya, dan menjadi salah satu faktor dari enam penyebab kematian dini di negeri yang berpopulasi terbanyak di dunia ini.

Render proyek Forest City Nanjing

Pakar fisika di Universitas California di Berkeley, AS, mengkalkulasikan bahwa sekitar 1,6 juta orang di China meninggal setiap tahunnya akibat masalah jantung, paru-paru dan struk yang disebabkan oleh polusi udara, terutama asap partikel kecil.

Studi yang dipublikasikan di jurnal PLOS One tersebut menyatakan emisi dari pembakaran batu bara yang digunakan sebagai sumber pembangkit listrik dan pemanas rumah sebagai faktor terbesar dari polusi udara.

Stefano sendiri sudah meluncurkan proyek Kota Hutan di Nanjing itu pada Februari lalu dengan rencana akan dimulai dengan pembangunan dua menara yang berdampingan. Dua bangunan tinggi itu akan dilapisi dengan 23 jenis pohon dan lebih dari 2.500 pohon perintis. Dua bangunan itu dikembangkan untuk menara kantor rumah, sebuah hotel mewah 247 kamar, sebuah museum dan sebuah sekolah arsitektur hijau. Proyek tahap pertama ini ditargetkan selesai pada tahun depan.

Bosco Verticale, bangunan hijau yang sudah dibuat Stefano di Milan, Italia. (Foto repro)

“Kami telah diminta untuk merancang seluruh kota di mana Anda tidak hanya memiliki satu gedung tinggi namun Anda memiliki 100 atau 200 bangunan dengan ukuran berbeda, semua dengan pepohonan dan tanaman di fasad,” kata Boeri kepada Guardian. “Kami bekerja sangat serius dalam merancang semua bangunan yang berbeda. Saya pikir mereka akan mulai membangun pada akhir tahun ini. Pada tahun 2020 kita bisa membayangkan memiliki kota hutan pertama di China,” ujar Stefano seperti dilansir oleh The Guardian.com.

Menurut dia, proyek besarnya itu sangat positif bagi masa depan Nanjing karena kehadiran sejumlah besar tanaman, pohon dan semak di fasad dan balokn bangunan dapat berkontribusi terhadap pembersihan udara. Berkontribusi untuk menyerap CO2 dan menghasilkan oksigen.

LEAVE A REPLY